Rabu, 29 Februari 2012

Tentang Keadilan

Apa pendapatmu tentang keadilan?
Kali ini bukan pantai, tapi istana ini
Keadilan memang tak pantas untuk aku
Suara tuan layaknya guru.

Satu, Maluku!


Tahuri sudah berbunyi di puncak Binaya
Di Murkele tifa tengah berdendang
Terdengar jelas teriakan Kapitan Cengkeh-Pala,
“Lawamena Haulala!”

I’m Not Yankee

Guess who am i?
I’m not yankee!
But them,
They’re George Washington.

Aku Benci Rasa Ini

Rasa ini aku benci
Rasa yang lebih sakit dari patah hati
Diludahi dan terus diludahi
Bumi telanlah aku hari ini!

‘Satu Darah’

Tidak salah kalau Maluku dikenal sebagai daerah gudangnya musik, karena begitu banyak talenta-talenta Maluku yang mendunia karena  musik itu sendiri. Belakangan ini, salah satu jenis musik yang banyak digandrungi di Maluku adalah musik Hip-Hop (musik yang didominasi dengan rapping, beat making, break dancing, dan grafitty) yang merupakan inovasi orang kulit hitam di Amerika, akibat dari penjajahan orang kulit putih terhadap mereka, dan Hip-Hop diciptakan untuk menyalurkan pelampiasan emosi mereka. Di Maluku musik Hip-Hop booming sekitar tahun 2008 yang diperkenalkan oleh rapper-rapper (vokalis dalam musik Hip-Hop) bertalenta daerah ini dan berkat gebrakan merekalah, musik Hip-Hop bisa menjadi seperti sekarang ini dan benar-benar ada di puncaknya.

Mau Maluku Maju? Pariwisata Harus Diutamakan!

Sudah tak lazim lagi kalau provinsi Bali berkembang pesat berkat pariwisatanya, disana pariwisata diutamakan daripada bidang-bidang lainyna, dan alasan lain yang memperkuatnya adalah keseriusan, kedisiplinan, dan ketangguhan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab didalamnya, hal ini juga didukung oleh masyarakat setempat, dimana mereka (masyarakat dan pemerintah) berkerjasama dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Oh, Jembatan Merah Putih!

Jembatan Merah Putih merupakan sebuah jembatan yang rencananya akan menghubungkan desa Galala-Hative Kecil dengan Rumahtiga-Poka. Keberadaan jembatan ini merupakan buah harapan masyarakat Ambon terhadap persungutan mereka mengenai jalan pintas atau akses cepat dari bandara Pattimura ke daerah pusat kota. Memang benar jika Pemerintah sudah menemukan solusi mengenai hal tersebut sejak dulu yaitu dengan mengadakan Kapal Ferry Poka-Galala, namun hal ini dinilai tidak efektif untuk mereka yang dalam keadaan terburu-buru atau membutuhkan waktu yang singkat, hal ini dikarenakan Kapal Ferry tersebut harus berlabuh terlebih dahulu untuk memenuhi daya muatnya dengan penumpang, baik penumpang pejalan kaki maupun berkendaraan, dan hal itu biasanya memakan waktu hingga 15 menit.